https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Studying_with_a_view_(5653578171).jpg




Posisi menentukan prestasi

- Anonim
Studi master di Inggris hanya berlangsung setahun (full time) karena itu menemukan tempat terbaik di kampus akan turut mempengaruhi kualitas studi. Kita sedang bicara tentang posisi secara literal: tempat duduk di perpustakaan, meja belajar di common room, pojok tenang di kafe, ruang yang friendly untuk keperluan toilet serta makan, dan seterusnya.

Kenapa urusan sepele ini penting?

Sebab utamanya: karena mahasiswa Master menghabiskan sebagian besar waktu di kampus. Menemukan tempat yang pas dan cocok untuk belajar, baca jurnal, atau sekedar bersesi Skype dengan keluarga di tanah air adalah hal penting. Tempat yang cocok akan membuat urusan lancar, menjamin WiFi anti lemot, juga nyaman ditinggali berjam-jam sampai larut malam.

Sebab lainnya: ada ribuan (bahkan puluhan ribu dalam beberapa kasus iniversitas tertentu) mahasiswa yang punya kepentingan sama yakni menemukan lokasi strategis untuk belajar di kampus. Lebih cepat menemukan titik ini akan lebih baik. Anda tidak perlu antri terlalu lama untuk memanfaatkan komputer meja, printer atau mesin pembuat kopi. Di musim dingin, lokasi tertentu lebih hangat dari ruangan lain. Ini faktor kenyamanan yang juga penting buat orang Asia seperti kita. 

Di musim-musim ujian dan assigment yang berat, adalah hal yang biasa menyaksikan mahasiswa menghabiskan waktu nyaris 24jam di ruang belajar atau perpus. Tapi tidak semua ruang membolehkan mahasiswa membawa dan mengkonsumsi makanan. Kalau gemar belajar sambil mengunyah camilan, mencari lokasi yang food-friendly jadi penting juga.

Belum lagi umumnya library dan study room mengharuskan mahasiswa untuk bersikap tertib dan menghindari bersuara ramai. Kalau butuh belajar bersama atau sekadar perlu berdiskusi dengan teman, sebaiknya pilih ruang yang tak terlalu ketat aturannya. Kafe atau common room bisa jadi contoh. 

Pengalaman beberapa kawan mahasiswa Muslim menunjukkan kedekatan lokasi belajar dengan prayer/contemplation room juga patut diperhitungkan. Tak banyak ruang bisa dipakai untuk melaksanakan shalat dan karena itu shalat biasanya hanya bisa dilakukan di ruang yang sudah disediakan. Lumayan juga lho, harus berjalan beberapa ratus meter di musim dingin dengan suhu 2 derajat untuk mencapai mushalla. Jadi pilihan ruang yang nyaman untuk pergi dari dan ke ruang shalat bisa jadi faktor yang patut diperhitungkan. 

Dengan memperhitungkan beberapa contoh diatas, hal-hal yang patut jadi faktor penentu mencari ruang nyaman belajar adalah sebagai berikut:

1/ ketersediaan.
Cari tahu tentang semua lokasi yang bisa dipakai sebagai lokasi nyaman. Ada teman yang baru tahu disediakan ruang khusus belajar bagi mahasiswa pasca sarjana riset setelah masa kuliah selesai. Yang bikin si teman ini menyesal adalah ruang itu luas, tenang, menyediakan dapur sederhana dan sofa empuk untuk sekadar meluruskan kaki. Tapi ruang ini tersembunyi, tidak banyak mahasiswa yang tahu keberadaannya. Di tengah ribuan mahasiswa yang berebut fasilitas meja belajar, ini bisa jadi kemewahan yang patut diperjuangkan.

2/kebutuhan.
Kenali kebutuhan utama Anda: WiFi yang super cepat, stop kontak untuk colokan listrik, dekat fasilitas toilet dan tempat refil air minum, atau pojokan yang tenang tanpa gangguan? Tidak semua tempat belajar menyediakan fasilitas printer, scanner dan mesin fotokopi. Kalau kelengkapan ini penting untuk memenuhi kebutuhan studi Anda, kenali lokasi-lokasi yang menyediakannya.

3/ jam buka.
Beda ruang bisa jadi beda jam kerja maka penting untuk membiasakan diri dengan jam operasi ruang-ruang ini. Misalnya perpus bisa jadi buka 24jam Senin-Jumat tapi hanya buka setengah hari pada akhir pekan. Common room bisa jadi tempat favorit untuk belajar tapi mungkin diatas jam 21.00 sudah harus dikosongkan. Pastikan jam-jam ini untuk belajar tanpa jeda waktu.

Tentu saja tak ada panduan diatas bukan rumus baku. Ada teman yang mati-matian memilih belajar di satu pojok library karena titik itu terletak persis berseberangan dengan meja staf perpustakaan. Staf ini laki-laki dan aduhai gantengnya. You know what I mean. Rupanya dalam kasus si teman ini posisi menentukan pemandangan. 

Jadi apa pun posisi pilihanmu, itu lah yang akan jadi 'prestasi'mu.
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/7/73/B%C3%BCrgerkinder_zur_Biedermeierzeit_(um_1820).jpg

Jangan tertipu dengan kesan pesan di atas hiperbolik.

Meski kedengaran lebay, kalimat itu tidak salah. Tutor akademik - seperti sudah ditulis di beberapa bagian blog ini - adalah sekutu terdekat Anda saat studi di Inggris. Kalau hubungan Anda dengan tutor akademik kurang harmonis/dekat/akrab maka ini saatnya untuk memperbaiki.

Kenapa?

Pertama, mereka (harusnya) memahami Anda sebagai mahasiswa dan orang asing sekaligus. Sebagai mahasiswa, tugas mereka membimbing dan mengarahkan juga membantu jika diperlukan dalam kegiatan terkait fungsi-fungsi akademik. Misal apa baiknya pilih modul A daripada B? Apa untungnya ikut kelas prep bahasa dibanding tidak? Atau kalau ada masalah dengan seorang dosen dan Anda butuh bantuan, dia bisa tampil mengawani setidaknya mengirim email pada dosen bersangkutan membantu persoalan Anda.

Berikutnya sebagai tutor, adalah juga tugasnya membantu Anda sebagai sosok individual.

Fungsi terakhir ini bisa jadi arguable - bisa diperdebatkan. Karena sebagaian orang mungkin berpendapat: kenapa tutor akademik harus ngurus urusan personal? Memang dia babysitter apa? Pengalaman saya mengatakan banyak tutor tidak membatasi fungsinya dengan rigid begitu. Ada cerita teman, tutor membantunya cari kontrakan flat waktu dia tiba-tiba kehilangan akomodasi karena kesalahan administrasi student house. 

Ada lagi yang bantu teman ngurus cari partial scholarship setelah orangtua di kampung jatuh bangkrut sementara masa kuliah masih beberapa bulan lagi. Pengalaman pribadi saya bahkan menunjukkan tutor bersedia beri layanan proof reader gratis untuk tiap assignment sebanyak belasan ribu kata demi mendongkrak nilai saya. Padahal kalau pakai jasa proofreading di kampus, ongkosnya rata-rata paling murah £12 per 1000 kata. Intinya mereka bersedia menghabiskan waktu dan tenaga yang sangat berharga demi kemaslahatan mahasiwa tutee-nya.

Nah bagaimana sekarang mencapai level hubungan baik begini?

Ada dua hal. Pertama, usaha. Jadilah mahasiswa baik yang disiplin dan bertanggungjawab. Tunjukkan pada tutor kalau Anda memang sekolah dengan niat baik menimba ilmu. Rajin kuliah, baca jurnal, kerjakan tugas tepat waktu. Usaha dan kerja keras sangat dihargai - perkara hasil, itu lain lagi. Jika menemukan masalah, jangan tunggu lama segera hubungi tutor Anda. Kirim email, temui di ruangannya, sisakan waktu untuk ngobrol kalau kebetulan beliau sempat.

Intinya jalin komunikasi. Ceritakan tentang Indonesia, misalnya alasan Anda stres pada bulan-bulan winter adalah karena di tanah air suhu mencapai 40derajat selsius on a daily basis. Tanyakan tips atau solusi praktis untuk persoalan yang Anda hadapi terkait upaya penyesuaian diri dan akademik. Ceritakan bagaiamana sekolah di Indonesia tidak menuntut pengerjaan esai dengan ketat dan karena itu Anda meraa kesulitan catching up dengan tugas-tugas. Dan seterusnya. 

Kuncinya, jangan sampai overkill. Jangan lebay, mentang-mentang mau akrab semua diadukan dan ditanyakan. Ukur dengan perasaan dan pemikiran Anda kira-kira mana yang pantas ditanyakan mana yang baiknya disimpan sendiri. 

Kenapa hal yang kelihatan remeh-temeh begini dianggap penting?

Karena Anda ingin menghindari kesan "cuma nyapa kalau butuh". Atau sudah kepepet baru bilang. Ada cerita teman yang kesulitan cari tema dan supervisor untuk disertasi. Mestinya sudah selesai bulan April, sampai Juni dia galau sendiri karena tak segera kontak tutornya untuk minta bantuan. Akhirnya waktu disertasi sudah mulai dikerjakan dia masih kelimpungan cari pembimbing, tema dan persiapan riset. Rugi waktu, tenaga dan perasaan galau selama berbulan-bulan.

Kenapa tidak mengontak supervisor segera? Mereka lama kontak balik, katanya. Sebagian kontak balik cuma untuk bilang "unfortunately, I have a maximum of students under my supervision already".  Cari lagi, cari lagi - sampai rugi waktu sekitar satu setengah bulan. Itu separoh proses waktu nulis disertasi. Untung tutornya akhirnya menemukan supervisor dan berhasil 'maksa' supaya dia mau terima tutee-nya.

Belum tentu juga sih tutor akademik mau susah-payah bela-belain cari supervisor baru dan seterusnya untuk bantu. Ada teman yang studinya di bidang public policy dengan jumlah mahasiswa seangkatan diatas 160 orang. Tutor akademik punya tanggung jawab terhadap sekitar 10-16 orang dalam berbagai angkatan. Itu belum termasuk angkatan lain dan dari program studi berbeda, ditambah mata kuliah yang harus dia emban, kewajiban riset dan nulis jurnal, dan lain-lain.

Intinya dia repot dan sibuk. Kalau ini yang terjadi, ya apa boleh buat. Nasib.

Ini makin menguatkan alasan mengapa perlu membina hubungan baik dengan tutor. Dalam segala keterbatasan, tetap penting menjaga semua peluang termasuk untuk mendapat bimbingan dari personal academic counsellor ini. Jangan segan untuk mengirim email sekedar dengan sopan mengatakan "Dear Peter, I have just come across your new paper on so and so yadda yadda yaddaa...".

Juga selalu sempatkan mengucapkan terimakasih jika merasa dibantu untuk urusan apa pun.  Bangun hubungan dimana Anda merasa perlu menempatkan dia sebagai konselor yang penting dan terhormat dan jika memungkinkan ikuti nasehatnya. 

Penting diingat semua proses dilakukan dengan profesional.  Ini bukan film Korea yang tiap tikungannya bisa berubah jadi arena hubungan romantis, ya. Dan banyak universitas melarang ada hubungan percintaan antara staf dan mahasiswa, jadi harap hati-hati. Target utama adalah Anda bisa lulus sekolah dengan baik. Nilai memuaskan itu bonus. 

Bonus lain didapat kenalan saya yang kebetulan dekat sekali dengan tutornya. Dia direkomendasikan dapat beasiswa untuk studi nanoscience di Amerika, karena tutornya sebelum kerja di Inggris lama berkarir di Amerika. 

Asik kan?
http://www.hercampus.com/sites/default/files/2014/10/21/stt_1.jpg

Kapan terakhir Anda belajar kelompok? 

Belajar ya, bukan buka buku atau laptop lalu makan-minum dan bergosip dalam kelompok. Ide belajar kelompok boleh jadi kuno - apalagi saat semua bisa dilakukan dari jarak jauh - tapi kegiatan ini telah menyelamatkan nasib studi saya di UK. Idenya sederhana sekali: cari teman (boleh satu boleh beberapa) untuk duduk bersama dan membahas mata kuliah yang Anda pelajari di kelas.

Bentuknya bisa diskusi (sharing) antar anggota kelompok, bisa juga teman mengajari bagian yang Anda kurang mengerti atau Anda memberitahu teman bagian yang dia kurang paham. Meskipun sederhana ini ide yang mujarab untuk mengatrol otak agar menghidupkan kembali daya ingat tentang subyek yang kita pelajari di kelas - setidaknya itu kesimpulan saya. 

Belajar kelompok sangat bermanfaat untuk siswa yang ketinggalan di kelas. Dia bisa mengejar ketinggalan dengan banyak bertanya dan mencoba memahami subyek - hal yang mungkin sulit dilakukan di kelas karena keterbatasan jam kuliah, kurang lincah berbahasa Inggris, atau sekadar karena sifat aslinya yang pemalu. 

Satu hal tentang pengalaman kuliah tingkat master adalah diskusi kelas sangat penting - beberapa dosen bahkan memberi nilai khusus untuk poin ini bagi mahasiswa yang aktif mengemukakan pikiran mereka di kelas. Tetapi untuk mampu mengungkapkan gagasan secara bernas dan otentik, kita dituntut memahami teks dan konteks dan punya landasan pustaka (baca: banyak sekali membaca) yang luas.

Syarat-syarat ini yang mungkin membuat kita sulit terlibat dalam diskusi kelas dan akibatnya kita jadi ketinggalan pemahaman terkait satu subyek. Nah, diskusi luar kelas dalam bentuk belajar kelompok akan membantu mengatasi kekurangan ini. Trik yang sering saya praktekkan adalah saling bertukar interpretasi - brainstorm - dengan kawan yang mungkin punya interpretasi berbeda.

Misalnya: apa sih yang dimaksud Foucault waktu dia membahas teori tentang social control?

Anda mungkin merasa tak yakin apalah yang dimaksud Foucault adalah A atau B. Mendiskusikan ini dengan teman akan memberi peluang untuk mendengar interpretasi yang lebih jelas. Begitu juga dengan teori atau gagasan lain. Ingat, studi dengan lingkungan internasional membuat peluang memahami sesuatu menjadi beragam - orang menggunakan latar belakang dan pola pikir yang sangat berbeda untuk menelaah suatu hal.

Take advantage of this - tangkap peluang ini untuk menyerap pemahaman baru seluas-luasnya. Bagi mereka yang sudah merasa mengerti dengan satu tema yang dibahas di kelas, belajar kelompok juga menguntungkan karena berarti mengetes kembali kemampuan memahami tema tersebut.  Macam guru yang makin banyak mengajar justru akan makin pintar. Jadi bagi yang belum maupun sudah paham tentang satu tema, belajar kelompok sama bermanfaatnya.

Satu lagi keuntungan belajar kelompok: mengurangi beban membaca.

Ini ide yang agak curang, tapi tidak haram dicoba. Bayangkan, pernah satu saat untuk satu mata kuliah yang akan diajarkan pada satu sesi kuliah selama dua jam, kami mendapat bahan bacaan sebanyak 250 halaman! Agak sinting, tapi bukan kasus yang langka. Studi di Inggris (atau negara dengan sistem akademik yang cukup maju) umumnya memang mensyaratkan mahasiswa untuk melek (well versed) dalam hal studi pustaka. Kalau dalam sepekan ada empat mata kuliah, bagaimana mengatur supaya semua bahan selesai dibaca dan dipahami? Belum kalau ada tugas lain.

Untuk mengakalinya saya dan teman kelompok belajar membagi rata bahan bacaan itu. Menjelang jam kuliah kami duduk bersama dan saling melaporkan apa poin yang kami baca dan apa tekanan yang patut dicatat. Kami saling membandingkan dan berdiskusi tentang isi bacaan masing-masing. Saat masuk kelas, saya lega karena sedikitnya saya sudah dapat 'bocoran' apa ide yang layak dibahas dalam diskusi kelas nanti. Dan saat diskusi berlangsung, tenang rasanya karena isu yang dibahas tak jauh beda dengan diskusi internal dalam kelompok. Selamet deh.

Hal-hal yang patut diperhatikan dalam membentuk kelompok belajar:

1/ Ukurannya jangan terlalu besar. Idealnya 3-4 orang untuk menjaga fokus. Terlalu banyak anggota akan meningkatkan risiko target belajar tak tercapai - misalnya kalau ada anggota sering berhalangan datang padahal masing-masing diharapkan memberi kontribusi dalam diskusi

2/ Jangan ambisius dengan memilih teman kelompok yang 'terlalu pintar'. Percayalah bahwa masing-masing anggota punya kemampuan cukup untuk memberi kontribusi pada proses belajar dan sangat penting untuk saling memberi dan menerima dalam proses itu. Anggota yang 'terlalu pintar' mungkin akan banyak membantu anggota lain, tapi mungkin juga justru tak sabaran dengan kemampuan anggota lain yang butuh waktu lebih untuk memahami tema. Anggota yang 'biasa saja' (seperti saya) mungkin jadi segan bertanya dan berinteraksi karena merasa tak nyaman memaksa rekan sekelompok untuk menyesuaikan diri dengan ritme yang lebih lambat.

3/ Be understanding. Sikap saling mengerti dan standar sopan santun sangat penting dalam interaksi kelompok. Ingat, Anda bergaul dengan mahasiswa beda bangsa dan ras sehingga mungkin masing-masing punya kebiasaan berbeda. Misalnya bicara sambil menunjuk-nunjuk adalah hal yang biasa dalam tradisi kita (atau minimal bukan hal luar biasa) tapi untuk (sebagian) orang Barat, rupanya ini hal sensitif yang tabu dilakukan.

4/ Jadilah anggota yang aktif dan penuh komitmen. Tak ada yang tahu batas intelektualitas seseorang tapi orang akan selalu menghargai komitmen untuk tepat waktu, bekerja keras dan kesediaan membantu orang lain. Kalau Anda dapat jatah membaca 100 halaman, lakukan dengan tanggungjawab jangan mencari-cari alasan untuk tidak melakukannya. Kalau ada anggota kelompok yang kurang paham, beri waktu untuk mengejar ketinggalan, lain kali bisa jadi Anda yang ketinggalan.

Last but not least belajar kelompok punya manfaat ganda untuk mata kuliah yang menggunakan tes tulis (sitting exam). Pertama, proses ini memberi kita peluang tanya-jawab dengan teman dan menguji apa jawaban yang kira-kira paling tepat terhadap satu pertanyaan. Kedua, kita dapat menyerap ilmu (lebih cepat) dari teman kalau kita sendiri tak sempat mempelajari sekian banyak bahan yang harus kita siapkan sebelum ujian.

Yak sono dah, pilih teman belajarmu sekarang juga!

About us